Hari Minggu Biasa Ke-XXVI (Minggu, 26 September 2021)
BcE. Bil. 11 : 25 – 29 ; Yak. 5 : 1 – 6 ; Markus 9 : 38 – 43, 45, 47 – 48
Dalam beberapa kejadian yang pernah terjadi di negeri kita tercinta ini, saya melihat ada sekelompok orang yang mengatasnamakan Allah kemudian bertindak anarkis terhadap sesamanya. Saya pribadi tidak mengerti apa yang menjadi dasar atau landasan sekelompok orang tersebut bertindak anarkis. Bagaimana mereka bisa mengetahui bahwa Allah menghendaki mereka bertindak demikian terhadap sesamanya? Apakah mereka sungguh dapat memahami kehendak Allah? Atau jangan jangan merekalah yang justru mengatur dan memaksa Allah agar mengikuti kehendak mereka?
Dalam upaya saya untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas, saya justru menemukan jawabannya ketika merenungkan bacaan Injil pada hari minggu ini.
Dalam bacaan Injil (Markus 9 : 38 – 43, 45, 47 – 48), dikisahkan bahwa Yesus menegur para rasul-Nya karena mencegah seseorang yang bukan dari kelompok mereka melakukan pengusiran setan dalam nama Yesus. Para rasul melakukan hal itu karena merasa orang tersebut tak pantas dan tak layak untuk melakukannya di dalam nama Yesus. Yesus menegur para rasul karena para rasul merasa seolah Allah adalah milik mereka saja, sehingga membatasi ruang gerak dan karya agung Allah. Para rasul seolah membatasi rahmat Allah yang diperuntukkan bagi semua orang. Sebaliknya Yesus justru menghendaki agar para rasul dan kita semua menjadi sarana rahmat dan penyalur cinta kasih Allah kepada semua orang. Itulah panggilan kita yang utama dan terutama.
Semoga kita dapat belajar dari pengalaman para rasul hari ini. Bahwa Tuhan Allah bukan hanya milik agama atau sekelompok kaum tertentu, melainkan kita adalah milik Allah. Kita tidak boleh mencegah atau melarang siapa pun yang berbuat baik dalam nama Tuhan karena siapapun yang berbuat baik pasti berasal dari Tuhan. Kita semua bersaudara dalam kebaikan dan dalam kasih-Nya kita dipersatukan. Amin.